Rabu, 30 September 2015

Pengembangan Model Pembelajaran Contextual Creative Learning Untuk Meningkatkan Kompetensi Ekonomi Kreatif Berwawasan Lingkungan Pada Siswa SMA

Oleh : Hariyono
Abstrak : Peningkatan mutu pendidikan menjadi salah satu usaha yang harus dilakukan secara intensif di tanah air karena mutu pendidikan masih dalam kategori rendah secara umum. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Salah satu usaha untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar adalah guru menggunakan model pembelajaran kontekstual dengan metode pembelajaran Creative Learning. Dengan metode Creative Learning siswa akan menjadi kreatif dalam berpikir dan bertindak secara ekonomi, dengan harapan siswa mampu menganalisis sendiri tentang jiwa kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang telah dipelajari selama proses pembelajaran. Pembelajaran inovatif diterapkan sebagai hasil refleksi siswa atau guru untuk melakukan pembelajaran berbasis pada konteks, kebebasan, dan menyenangkan. Pengembangan pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah pembelajaran inovatif yang memberikan iklim kondusif di kelas dalam pengembangan daya nalar, daya inkuiri dan kreatifitas siswa. Strategi belajar mengajar mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran inovatif memiliki ciri mendorong peserta didik menemukan gagasan baru dan mendorong peserta didik membuat hal-hal yang baru. Dengan metode Creative Learning diharapkan mampu meningkatkat kompetensi ekonomi kreatif pada siswa. Dengan metode ini siswa akan menjadi kreatif dalam berpikir dan bertindak secara ekonomi, dengan harapan siswa mampu menganalisis sendiri tentang ekonomi kreatif yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.
Kata kunci : Model Pembelajaran, CCL, Ekonomi Kreatif,


A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan  kunci  untuk  semua  kemajuan   dan perkembangan yang  berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
Peningkatan mutu pendidikan menjadi salah satu usaha yang harus dilakukan secara intensif di tanah air karena mutu pendidikan masih dalam kategori rendah secara umum. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut tentu saja guru yang harus menentukan dan mengupayakan sistem pengajaran supaya lebih bermakna dan berdaya guna. Di dalam proses belajar mengajar guru diharapkan dapat memilih model-model pembelajaran yang efektif dan bervariasi. Pemilihan model pembelajaran sangat tergantung kepada tujuan pengajaran, bahan yang diajarkan, kompentensi siswa serta sarana dan prasarana yang tersedia, persyaratan lain yang harus diperhatikan adalah guru harus mengenal dan menguasai model pembelajaran itu sendiri, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut disesuaikan dengan bahan/tujuan dan ruang lingkupnya.
Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru atau teacher oriented beralih berpusat pada murid atau student centered. Metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti menjadi partisipatori. Pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran inovatif adalah model pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi efektif yang dapat meningkatkan prestasi belajar perserta didik. Sumber daya manusia yang kreatif tidak mungkin tumbuh secara alami melainkan harus melalui suatu proses yang dilakukan secara sistematis, konsisten, profesional dan berkesinambungan. salah satu diantaranya dengan melatih mereka kreatif dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu dari pendidikan antara lain berbagai pelatihan keterampilan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pengajaran, perbaikan saran dan prasarana. Mutu dari pendidikan akan tercapai jika proses belajar mengajar efisien dan efektif bagi tercapainya pengetahuan dan keterampilan bagi lulusan siswa yang sesuai dengan tuntutan zaman. Agar proses belajar mengajar efektif dan efisien perlu diperhatikan adanya kemampuan belajar siswa, penentuan metode mengajar  yang di gunakan guru serta menyusun strategi belajar mengajar yang sesuai dengan prinsip belajar dan pembelajaran.
Persoalan sekarang adalah bagaimana guru sebagai wujud dari tanggung jawabnya sebagai pendidik generasi muda serta turut berperan aktif dalam mensukseskan program pemerintah di bidang pendidikan dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan mengkaitkannya dengan kehidupan nyata. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi guru setiap hari, untuk dapat mengatasi hal tersebut guru hendaknya memiliki wawasan yang luas, kreatif dan inovatif dalam proses pengelolaan proses pembelajaran.
Suatu konsep belajar atau suatu metode belajar yang membantu guru mengatikan antara materi yang diajarkan nya dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yan dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebaagi anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan melalui konsep atau strategi pembelajaran menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ilmiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru dan siswa karena strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya, siswa sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup siswa nanti dengan begitu dapat memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya dan mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri siswa itu sendiri. Dalam upaya itu siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Tugas guru sekarang adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, dengan mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekarja sama untuk menemukan sesutau yang baru bagi anggota kelas/ siswa. Sesuatau yang baru (baca pengetahuan dan keterampilan) data dari `menemukan sendiri` bukan dari apa kata guru, begeitulah peran guru dikelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Salah satu usaha untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar adalah guru menggunakan model pembelajaran kontekstual dengan metode pembelajaran Creative Learning. Dalam metode ini dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.  Model ini dikembangkan mengacu kepada berbagai pendekatan belajar.  Melalui model ini memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji. 
Dengan metode Creative Learning diharapkan mampu meningkatkat kompetensi kewirausahaan dan ekonomi kreatif pada siswa. Dengan metode ini siswa akan menjadi kreatif dalam berpikir dan bertindak secara ekonomi, dengan harapan siswa mampu menganalisis sendiri tentang jiwa kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran ekonomi bukanlah mata pelajaran yang bersifat hafalan, sehingga siswa harus diajarkan untuk berekonomi dengan mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi yang terjadi secara nyata maka pembelajaran ekonomi perlu menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa serta disesuaikan dengan kondisi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
I. Pembelajaran
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan- perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut: “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Sedangkan pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Secara umum, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap pengertian pembelajaran adalah “suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, motode, dan evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
II. Pembelajaran Inovatif
A. Pengertian Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang bersifat student-centered, artinya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Pembelajaran inovatif mendasarkan diri pada paradigma konstruktivistik. Pembelajaran inovatif yang berlandasakan paradigma konstruktivistik membantu siswa untuk mengiternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru.
Pengembangan pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah pembelajaran inovatif yang memberikan iklim kondusif di kelas dalam pengembangan daya nalar, daya inkuiri dan kreatifitas siswa. Strategi belajar mengajar mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran inovatif memiliki ciri mendorong peserta didik menemukan gagasan baru dan mendorong peserta didik membuat hal-hal yang baru.
Pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan masalah. Siswa yang seperti ini mampu menggunakan penalaran yang jernih dalam proses memahami sesuatu dan piawai dalam mengambil pilihan serta membuat keputusan. Selain itu, pembelajaran yang inovatif juga tercemin dari hasil yang diperlihatkan siswa yang komunikatif dan kolaboratif dalam mengartikulasikan pikiran dan gagasan secara jelas dan efektif melalui tuturan/lisan dan tulisan.
B. Model pembelajaran Inovatif
Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Model- model pembelajaran inovatif, yaitu:
1) Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
2) Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning), merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
3) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Kurikulum pembelajaran berbasis masalah membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif.
4) Model Pembelajaran Tematik, merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik.
5) Model Pembelajaran Berbasis Komputer, merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui sistem komputer. Pembelajaran berbasis komputer sangat dipengaruhi oleh teori belajar kognitif model pemrosesan informasi.
6) Model Pembelajaran Berbasis Web (E- Learning), merupakan aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Model pembelajaran dirancang dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis web dalam program pembelajaran konvensional tatap muka.
7) Model Pembelajaran PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), merupakan model pembelajaran dan menjadi pendoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenagkan.
8) Model Pembelajaran Mandiri, merupakan pembelajaran yang memberikan keleluasan kepada siswa untuk dapat memilih atau menetapkan sendiri waktu dan cara belajarnya sesuai dengan ketentuan sistem kredit semester di sekolah.
9) Model Lesson Study, merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan bersinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan melaporkan hasil refleksi kegiatan pembelajaran.
C. Pembahasan Pembelajaran Inovatif
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah yaitu dengan cara memperbaiki proses belajar mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar telah muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru merupakan komponen yang paling menetukan kualitas pendidikan, maka dalam rangka mengembangkan sumber dayanya untuk menjadi lebih profesional, dituntut terus untuk mengikuti perkembangan konsep-konsep dan model-model pembelajaran baru dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan perkembangan tersebut pendidikan dewasa ini menunjukkan kemajuan pesat, perubahan dan pembaharuan seperti terjadi dalam bidang bidang kurikulum, media, alat dan model pembelajaran.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah untuk menyiapkan siswa mengungkap dan memahami realitas alam. Pemahaman terhadap realitas alam merupakan landasan bagi siswa untuk siap hidup di dunia nyata, berinteraksi sosial, dan mencintai alam dalam setiap perubahannya. Model pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa menuju pencapaian pemahaman terhadap realitas alam adalah model pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif diterapkan sebagai hasil refleksi siswa atau guru untuk melakukan pembelajaran berbasis pada konteks, kebebasan, dan menyenangkan.
Model pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang bersifat student- centered, artinya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Pembelajaran inovatif memiliki ciri mendorong peserta didik menemukan gagasan baru dan mendorong peserta didik membuat hal-hal yang baru. Beberapa model pembelajaran inovatif telah dikembangkan untuk memacu siswa berperan aktif dalam setiap pembelajaran. Siswa diharapkan mampu dan mau meberikan pendapatnya. Model pembelajaran inovatif menuntut siswa untuk terlibat saling tukar pikiran, berkolaborasi dan berkomunikasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sehingga diharapkan siswa mampu mngembangkan kemampuan komunikasi mereka.
Salah satu inovasi yang mengiringi paradigma pembelajaran adalah diformulasikan serta diaplikasikannya model- model pembelajaran  inovatif. Model- model pembelajaran inovatif tersebut adalah: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning); Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning); Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM); Model Pembelajaran Tematik; Model Pembelajaran Berbasis Komputer; Model Pembelajaran Berbasis Web (E- Learning); Model Pembelajaran PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan); Model Pembelajaran Mandiri; dan Model Lesson Study.
Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang diacu untuk mencapai tujuan pendidikan sebenarnya. Pembelajaran inovatif dalam implementasinya menuntut perubahan paradigma dalam pembelajaran. Perubahan paradigma tersebut juga harus disertai perubahan pola pikir pemegang kebijakan pendidikan, para praktisi, dan para siswa dalam hal memaknai learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together.
III. Pembelajaran Ekonmi
A. Tujuan Pembelejaran Ekonomi
Seiring dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan muncullah ilmu yang disebut ilmu ekonomi. Paul A. Samuelson mengemukakan bahwa “Ilmu ekonomi sebagai suatu studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa alternatif penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditas, untuk kemudian menyalurkannya, baik saat ini maupun di masa depan kepada berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat”.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran ekonomi adalah bagian dari mata pelajaran di sekolah yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya yang tak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas jumlahnya.
Dalam proses pembelajaran terlebih dahulu harus menentukan tujuan yang ingin dicapai dan merumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Nana Sudjana menjelaskan bahwa “tujuan pembelajaran adalah rumusan pernyataan mengenai kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dimiliki atau dikuasai siswa setelah siswa menerima proses pengajaran”. Sedangkan menurut Wina Sanjaya, “tujuan pembelajaran adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam satu kali pertemuan”.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam setiap kali pembelajaran berakhir. Karena hanya guru yang mengetahui karakteristik siswa dan karakteristik materi pelajaran yang diajarkan, maka yang bertugas merumuskan tujuan pembelajaran adalah guru.
Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam rumusan indikator tujuan belajar adalah siapa yang diharapkan mencapai tujuan atau hasil belajar itu, tingkah laku apa yang diharapkan dapat dicapai, dalam kondisi yang bagaimana kondisi belajar dapat ditampilkan. Karena hakikatnya, tujuan pembelajaran adalah sebagai arah dari proses belajar mengajar yang diharapkan mampu mewujudkan rumusan tingkah laku yang dapat dikuasai siswa setelah siswa menempuh pengalaman belajarnya.
B. Pendekatan Pembelajaran Ekonomi
Pendekatan pembelajaran dapat dikatakan suatu pandangan umum terhadap proses pembelajaran yang akan menentukan metode pembelajaran yang akan diterapkan. Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran. Adapun beberapa pendekatan pembelajaran ekonomi di SMA antara lain:
1) Pendekatan tujuan pembelajaran
Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk keberhasilan suatu tujuan. Berdasarkan penjelasan tersebut, pendekatan tujuan pembelajaran berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai setelah proses belajar mengajar selesai dilaksanakan.
2) Pendekatan konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep merupakan suatu proses bimbingan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa pada saaat proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan siswa menguasai konsep.
3) Pendekatan lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari – hari sering digunakan pendekatan lingkungan.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang menjadikan lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat digunakan untuk memahami materi pelajaran yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan memperhatikan beberapa pendekatan pembelajaran yang telah diuraikan di atas, pada mata pelajaran ekonomi SMA terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi dan mengacu pada karakteristik ilmu ekonomi. Agar tujuan pembelajaran ekonomi SMA dapat tercapai, maka ada beberapa prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi yang mengacu pada karakteristik ilmu ekonomi, maka perlu adanya proses pengembangan materi agar sesuai kurikulum yang berlaku dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi.
IV. Pembelajaran Kontekstual
A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep tentang pembelajaran yang membantu guru-guru untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi-situasi dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari- hari sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang dituntut dalam pelajaran. Pendekatan kontekstual ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Tugas guru dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber- sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Dengan demikian, dalam kegiatan pembelajaran perlu adanya upaya membuat belajar lebih mudah, sederhana, bermakna dan menyenangkan agar siswa mudah menerima ide, gagasan, mudah memahami permasalahan dan pengetahuan serta dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan barunya secara aktif, kreatif dan produktif. Untuk mencapai usaha tersebut segala komponen pembelajaran harus dipertimbangkan termasuk pendekatan kontekstual.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pendekatan kontekstual ini perlu diterapkan mengingat bahwa selama ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapalkan. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru masih dominan sehingga siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Melalui pendekatan kontekstual ini siswa diharapkan belajar dengan cara mengalami sendiri bukan menghapal.
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa komponen yang mendasari proses implementasinya dalam pembelajaran. Komponen utama dalam system pembelajaran konsektual.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
B. Prinsip Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa prinsip dasar. Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran kontekstual menurut Suprijono (2011: 80-81) adalah sebagai berikut:
a) saling ketergantungan, artinya prinsip ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini merupakan suatu sistem. Lingkungan belajar merupakan sistem yang mengitegrasikan berbagai komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling mempengaruhi secara fungsional.
b) Diferensiasi, yakni merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas kehidupan di sekitar siswa. Keanekaragaman mendorong berpikir kritis siswa untuk menemukan hubungan di antara entitas-entitas yang beraneka ragam itu. Siswa dapat memahami makna bahwa perbedaan itu rahmat.
c) Pengaturan diri, artinya prinsip ini mendorong pentingnya siswa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan materi akademik dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan diri.
Selanjutnya, Sumiati dan Asra (2009: 18) menjelaskan secara rinci prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut: (1) menekankan pada pemecaham masalah; (2) mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja; (3) mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali; (4) menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa; (5) mendorong siswa belajar satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama; dan (6) menggunakan penilaian otentik.
Lain halnya dengan Nurhadi, ia mengemukakan prinsip-prinsip pembelajara kontekstual yang perlu diperhatikan guru, yakni: (1) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran mental sosial, (2) membentuk kelompok yang saling bergantung, (3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang mandiri, (4) mempertimbangkan keragaman siswa, (5) mempertimbangkan multi intelegensi siswa, (6) menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan masalah, dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi, (7) menerapkan penilaian autentik.
C. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, ada beberapa komponen utama pembelajaran efektif. Komponen-komponen itu merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dalam pembelajaran kontekstul. Komponen-komponen dimaksud adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), permodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
1) Konstruktivisme; yakni mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan atau keterampilan barunya. Sumiati dan Asra (2009: 15) mengemukakan lima elemen belajar konstruktivisme, yaitu: (a) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiating knowledge), (b) perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), (c) pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), (d) mempraktekkan pengetahuan (applyng knowledge), dan (e) melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut (reflecting knowledge).
2) Bertanya; yakni mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Melalui proses bertanya, siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: (a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademik; (b) mengecek pemahaman siswa; (c) membangkitkan respon pada siswa; (d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa; (e) mengetahui hal-hala yang sudah diketahui siswa; (f) memfokuskan pengetahuan siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru; (g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; dan (h) menyegarkan kembali pengetahuan siswa. (Sagala, 2009: 88).
3) Menemukan; merupakan bagian inti dari pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil megingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri.
4) Masyarakat belajar; yaitu menciptakan masyarakat belajar (belajar daam kelompok). Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.
5) Permodelan; menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Dengan adanya model, siswa akan lebih mudah meniru apa yang dimodelkan. Pemodel tidak hanya orang lain, guru atau siswa yang lebih mahir dapat bertindak sebagai model.
6) Refleksi; dilakukan pada akhir pembelajaran. Refleksi merupakan upaya untuk melihat kembali, mengorganisir kembali, menganalisis kembali, mengklarifikasi kembali, dan mengevaluasi kembali hal-hal yang telah dipelajari.
7) Penilaian sebenarnya; yaitu upaya pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa adalah proyek/kegiatan dan laporannya, PR, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, dan karya tulis (Riyanto, 2010: 176).
D. Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif seperti yang diuraikan di muka. Oleh karena itu, seorang guru perlu mengetahui dan memahami penerapan pembelajara kontekstual itu sendiri. Langkah- langkah penerapan pembelajaran kontekstual sebagai berikut: (1) mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; (2) melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok bahasan; (3) mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya; (4) menciptakan masyarakat belajar; (5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; (6) melakukan refleksi di akhir pertemuan; (7) dan melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut: (1) Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu siswa agar yang dipelajari bermakna; (2) Experiencing, belajar adalah kegiatan “mengalami”, siswa berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya; (3) Applyng, belajar menekankan pada proses pendemonstrasian pengetahuan yang dimiliki dalam kenteks dan pemanfaatannya; (4) Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui belajar berkelompok, komunikasi interpersonal, atau hubungan intersubjektif; dan (5) Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru (Suprijono, 2011: 84).
V. Metode Pembelajaran “Creative Learning”
A. Pengertian Pembelajaran Creative Learning
Mendengar kata kreatif cenderung berkaitan dengan kata seni. Pada kenyataannya, kreatif sekarang ini diperlukan dalam berbagai hal dalam kehidupan. Salah satunya belajar. Metode pembelajaran kreatif akan membuat proses belajar-mengajar menjadi semakin mengasyikan. Selain menjadikan anak aktif mencari sesuatu yang dipelajarinya, anak juga menjadi kreatif dalam memecahkan setiap pembelajaran yang mereka dapatkan.
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang variatif, misalnya kerja kelompok, pemecahan masalah dan sebagainya.
Mengapa perlu kreatif? Mari kita ubah paradigma berpikir kita. Saatnya kita menjadi dan menciptakan generasi yang pandai berinovasi, agar tidak terjebak dengan padatnya target kurikulum sehingga yang terjadi adalah menghapal. Akibatnya, belajar menjadi tidak paham.
Pembelajaran kreatif mengharuskan guru untuk mampu merangsang peserta didik memunculkan kreatifitas, baik dalam konteks kreatif berfikir maupun dalam konteks kreatif melakukan sesuatu. Kreatif dalam berfikir merupakan kemampuan imajinatif namun rasional. Berfikir kreatif selalu berawal dari berfikir kritis yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu yang sebelumnya tidak baik. Tak seorangpun akan mengingkari bahwa kemampuan dan ciri-ciri kepribadian sampai tingkat tertentu dipengaruhi oleh oleg faktor lingkungan seperti keluwarga dan sekolah. Kedua lingkungan pendidikan ini dapat berfungsi sebagai pendorong (press) dalam pengembangan kreatifitas anak.
Dengan pengajaran kreatif, kita buat anak belajar menjadi paham, menumbuhkan motivasi belajar anak secara alamiah dan fun, serta membina kemampuan dasar dan respons berpikir positif anak. Dalam hal ini proses kreatif bukan hanya milik anak saja tetapi juga pengajar. Maka kita di sini sama-sama melakukan proses kreatif.
Sebagaimana inti dari proses belajar itu sendiri, yaitu bukan bagaimana kita mengajarkan pada siswa tentang sebuah pelajaran, tetapi bagaimana melalui kegiatan belajar kreatif secara alamiah dan lebih bermakna, kita memberi dukungan kepada siswa dalam proses belajarnya, sehingga tumbuh motivasi belajar dan kepekaaan dengan sendirinya pada siswa.
Dengan metode pengajaran kreatif, kita akan banyak belajar menciptakan sesuatu, apakah itu diciptakan sebagai alat untuk mengajar atau merupakan materi dari belajar. Dengan begitu anak/siswa pun akan banyak mendapatkan pengalaman. Sebab, bila materi disampaikan melalui pengalaman imajiner dan nyata, bagi anak hal itu akan menjadi proses belajar dan proses kreasi yang menyenangkan.
Berfikir kraetif ini harus dikembangkan dalam proses pembelajaran, agar peserta didik terbiasa dengan kreativitas. Terdapat empat tahap dalam peningkatan kebiasaan berfikir kreatif, yakni :
a. Persiapan, yakni proses pengumpulan berbagai informasi untuk diuji
b. Inkubasi, yakni suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai memperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional.
c. Iluminasi, yakni kondisi menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional.
d. Verifikasi, yakni pengujian kembali hasil hipotesis tersebut untuk dijadikan sebuah rekomendasi.
Sedangkan kreatif dalam melakukan sesuatu adalah kemampuan peserta didik dalam menghasilkan sebuah kegiatan atau aktifitas yang baru yang diperoleh dari hasil berfikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya yang baru.
Sehubungan dengan itu pengembangan kreatifitas peserta didik tidak hanya memperhatikan pengembangan kemampuan berpikir kreatif tetapi juga pemupukan sikap dan ciri-ciri kepribadian kreatif. Keberbakatan (giftedness) merupakan perpautan antara kemampuan umum atau inteligensi, kreatifitas (baik kemampuan berpikir kreatif maupun sikap kreatif) dan pengikatan diri terhadap tugas (task-commintment) atau motivasi internal, yang juga merupakan non-aptitude trait.
Seorang yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-mencoba, bertualang, suka bermain-main, serta intuitif. Dalam masyarakat, kita cenderung memandang orang-orang tertentu seperti seniman, ilmuwan, atau penemu, sebagai orang-orang misterius hanya karena mereka itu kreatif. Walaupun demikian, kita semua mempunyai kemampuan untuk menjadi pemikir-pemikir yang kreatif dan pemecah masalah. Yang diperlukan adalah pikiran yang penuh rasa ingin tahu, kesanggupan untuk mengambil resiko, dan dorongan untuk membuat segalanya berhasil.
Ini merupakan implikasi yang luar biasa besarnya bagi kita sebagai pengusaha, guru, peserta didik, orang tua, dan warga dunia yang bertanggung jawab. Pola pemikiran lama dan adaptasi pasif mungkin cukup membuat kita hanyut bersama arus, tetapi untuk menjadi benar-benar efektif dan terinformasi, kita harus mengendalikan gelombang informasi pascaindustri. Kita memerlukan kemampuan berpikir yang membuat kita mampu mengasimilasikan informasi baru untuk digunakan dalam rumah bisnis dan sekolah kita. Kita secara kreatif perlu mengadaptasi informasi itu untuk hidup kita agar mendapatkan hasil yang positif.
B. Belajar Kreatif
Untuk menjadi kreatif, seseorang harus mempunyai komitmen yang tinggi, kemampuan bekerja keras, bersemangat, dan percaya diri. Dalam situasi kelas, kreativitas dapat dikembangkan melalui kegiatan curah pendapat, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tanpa rasa takut dan mempercayai atau meyakinkan pendapatnya, serta mengajukan pertanyaan terbuka. Semua ini akan mungkin terjadi jika suasana kelas kondusif, serta guru dan siswa bebas melakukan eksplorasi atas topik kurikulum. Kreativitas dalam bidang akademik hanya mungkin ditumbuhkan jika guru mampu memosisikan diri sebagai fasilitator dengan merancang tugas-tugas yang menuntut siswa menghasilkan sesuatu yang baru (orisinal, asli), memilih dan merancang tugas sendiri, melakukan independent study atau melakukan satu percobaan/eksperimen.
Penerapan pendekatan inidapat diintegrasikan dalam pembelajaran kreatif dan produktif, yang secara eksplisit dirancang sebagai berikut.
1) Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran diupayakan atau difasilitasi dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk menjelajahi berbagai sumber yang relevan dengan topik/konsep/masalah yang sedang dikaji. Eksplorasi ini akan memungkinkan mereka melakukan interaksi dengan lingkungan dan pengalamannya sendiri, sebagai media untuk mengostruksi pengetahuan.
2) Siswa didorong untuk menemukan atau mengontruksi sendiri konsep yang sedang dikaji, melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi atau percobaan. Dengan cara ini, konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa, tetapi dibentuk sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang terjadi ketika siswa melakukan eksplorasi dan interpretasi. Dengan perkataan lain, siswa didorong untuk membangun makna dari pengalamannya sehingga pemahamannya tentang fenomena yang sedang dikaji menjadi meningkat. Di samping itu, munculnya berbagai sudut pandang siswa terhadap topik/konsep/masalah yang sama sangat dihargai, dan siswa didorong untuk mempertahankan sudut pandangnya dengan argumentasi yang relevan. Hal ini merupakan salah satu realisasi hakikat konstruktivisme dalam pembelajaran.
3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan rekreasi. Di samping itu, siswa juga mendapat kesempatan untuk membantu temannya dalam menyelesaikan satu tugas. Kebersamaan, baik dalam eksplorasi, interpretasi, serta rekreasi dan pemajangan hasil merupakan arena interaksi yang memperkaya pengalaman.
4) Oleh karena pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri (Erwin Segal, dalam Black, 2003) maka dalam konteks pembelajaran, kreativitas dapat ditumbuhkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkaji dan mengeksplorasi topik-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir keras, kemudian mengejar pendapat siswa tentang ide-ide besar dari berbagai perspektif. Guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan pemehamannya tentang topik-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri.
Dengan mengacu kepada karakteristik tersebut pembelajaran kreatif dan produktif diasumsikan akan mampu memotivasi siswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya secara kreatif. Oleh karena karakteristik yang seperti itu, model pembelajaran kreatif dan produktif ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai bidang studi dengan topik-topik yang bersifat terbuka, baik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret.
C. Implementasi Pembelajaran Kreatif
Isu inovasi perbaikan kualitas pembelajaran berkembang dengan menerapkan berbagai model.  Ada pun karakteristik model-model pembelajaran yang dimaksud pada dasarnya mengarah kepada siswa sebagai pusat pembelajaran. Karakteristik pembelajaran yang berpusat kepada siswa akan dapat menjadikan pembelajaran menyenangkan, menantang, mengembangkan keterampilan berpikir mendorong siswa untuk bereksplorasi sehingga siswa tahu keberhasilan dan kegagalannya, pada gilirannnya dapat menghasilkan  lulusan yang berkualitas.
Salah satu model pembelajaran yang diasumsikan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar adalah model pembelajaran kreatif .  Model ini dikembangkan mengacu kepada berbagai pendekatan belajar.  Melalui model ini memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji. 
VI. Ekonomi Kreatif
Era globalisasi dan konektivitas mengubah cara bertukar informasi, berdagang, dan konsumsi dari produk-produk budaya dan teknologi dari berbagai tempat di dunia. Dunia menjadi tempat yang sangat dinamis dan kompleks sehingga kreativitas dan pengetahuan menjadi suatu aset yang tak ternilai dalam kompetisi dan pengembangan ekonomi. Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian seputar Ekonomi Kreatif dan menjadikan Ekonomi Kreatif model utama pengembangan ekonomi.
Istilah “Ekonomi Kreatif” mulai dikenal secara global sejak munculnya buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” (2001) oleh John Howkins. Howkins menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997 Amerika Serikat menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai 414 Miliar Dollar yang menjadikan HKI ekspor nomor 1 Amerika Serikat. Howkins dengan ringkas mendefinisikan Ekonomi Kreatif, yaitu: “The creation of value as a result of idea
Dalam sebuah wawancara oleh Donna Ghelfi dari World Intellectual Property Organization (WIPO) di tahun 2005, John Howkins secara sederhana menjelaskan Ekonomi Kreatif yang disarikan sebagai berikut: “Kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal- hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan.”
Studi Ekonomi Kreatif terbaru yang dilakukan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) pada tahun 2010 mendefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai: “An evolving concept  based on creative assets potentially generating economic growth and development.”
 
Dengan penjabaran lebih lanjut sebagai berikut: Mendorong peningkatan pendapatan, penciptaan pekerjaan, dan pendapatan ekspor sekaligus mempromosikan kepedulian sosial, keragaman budaya, dan pengembangan manusia. Menyertakan aspek sosial, budaya, dan ekonomi dalam pengembangan teknologi, Hak Kekayaan Intelektual, dan pariwisata.
    Kumpulan aktivitas ekonomi berbasiskan pengetahuan dengan dimensi pengembangan dan keterhubungan lintas sektoral pada level ekonomi mikro dan makro secara keseluruhan. Suatu pilihan strategi pengembangan yang  membutuhkan tindakan lintas kementerian dan kebijakan yang inovatif dan multidisiplin.
    Di jantung Ekonomi Kreatif terdapat Industri Kreatif. Di Indonesia, dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015 (2008) Ekonomi Kreatif didefinisikan sebagai berikut: “Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.”
Ekonomi kreatif sering dilihat sebagai sebuah konsep yang memayungi konsep lain yang juga menjadi populer di awal abad ke-21 ini, yaitu Industri Kreatif. Tercatat istilah “Industri Kreatif” sudah muncul pada tahun 1994 dalam Laporan “Creative Nation” yang dikeluarkan Australia. Namun istilah ini benar-benar mulai terangkat pada tahun 1997 ketika Department of Culture, Media, and Sport (DCMS) United Kingdom mendirikan Creative Industries Task Force. Definisi Industri Kreatif menurut DCMS Creative Industries Task Force (1998): “Creative Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content.
Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.ekonomi-kreatif
 
Konsep Ekonomi Kreatif ini semakin mendapat perhatian utama di banyak negara karena ternyata dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Di Indonesia, gaung Ekonomi Kreatif mulai terdengar saat pemerintah mencari cara untuk meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi pasar global. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan yang bekerja sama dengan Departemen Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) serta didukung oleh KADIN kemudian membentuk tim Indonesia Design Power 2006 2010 yang bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk yang dapat diterima di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional. Setelah menyadari akan besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap negara maka pemerintah selanjutnya melakukan studi yang lebih intensif dan meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.
 
VII. Ekonomi Berwawasan Lingkungan
A. Pengertian Konsep Ekonomi Berwawasan Lingkungan
Pengertian ekonomi lingkungan : Ekonomi Lingkungan adalah ilmu yang menitikberatkan mempelajari kegiatan manusia yang terjadi di lingkungannya yang sedemikian rupa sehingga peranan dan fungsi lingkungan dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan penggunaannya dalam jangka waktu panjang.
Ilmu ekonomi dapat diartikan pula sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menentukan dan melakukan pilihan, oleh karena itu ilmu ekonomi disebut juga sebagai ilmu tentang memilih berbagai macam alternatif.
Peranan Lingkungan Bagi Kegiatan Ekonomi, merujuk pada UU PLH No 23/1997 Lingkungan memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia, yaitu:
a. Tempat sumber bahan-bahan mentah yang bisa diolah menjadi barang jadi atau barang konsumsi.
b. Tempat pengolahan limbah alami, (assimilator)
c. Sebagai sumber kesenangan (amenity)
Dari persfektif ilmu ekonomi masalah lingkungan yang muncul disebabkan karena biaya lingkungan tidak dimasukkan ke dalam biaya produksi yang mengakibatkan kerugian baik untuk orang lain ataupun pasar.  Dalam kontek ini, masalah lingkungan menyebabkan terjadinya inefisiensi alokasi SDM dan proses produksi.
Sejalan dengan adanya kesadaran manusia tentang sumber daya lingkungan yang terbatas, maka ekonomi lingkungan menjadi suatu pendekatan yang sesuai dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan.
B. Konsep Ekonomi Berwawasan Lingkungan
Denyut nadi kehidupan manusia, tidak lepas dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Apabila keseimbangan untuk memenuhi kebutuhan dan ekologi lingkungan sekitar terganggu, maka kegiatan manusia akan terhambat, bahkan terhenti. Kegiatan ekonomi merupakan kegiatan manusia yang besar dan komplek, meliputi sebagai besar hajat hidup manusia. Sekedar contoh sederhana yang berupa kegiatan ekonomi meliputi: perdagangan, jasa, perbankan, industry, pertanian, kehutanan dan sebagainnya.
Ekonomi berwawasan lingkungan adalah kegiatan ekonomi (industry, perdagangan, jasa, perbankan, keuangan) yang memiliki keseimbangan yang sehat dan dinamis antara ekonomi dan sumberdaya, sehingga kesinambungan. Konsep dasar ekonomi berwawasan lingkungan dapat dikaji dari pengertian ekonomi yakni :
1. Environmental friendly based economy;
2. Environmental sound economy;
3. Eco efficiency;
4. Sustainable Economy.
Semua konsep di atas pada intinya menekankan pada keseimbangan antara ekologi, social ekonomi dan sumber daya. Jadi penggunaan konsep dalam ekonomi berwawasan lingkungan semua itu tergantung pada lingkungan yang digunakan oleh kegiatan ekonomi. Pola-pola keseimbangan dalam kegiatan ekonomi yang melibatkan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada.
Bagi dunia usaha seharusnya menjaga 3 (tiga) hal berupa ; keseimbangan dan keamanan ekologi, berupa upaya untuk mempertahankan dan menopang daya dukung serta daya tampung planet bumi ini, sehingga tercipta system kehidupan yang sehat .
Keseimbangan dan keamanan social, dalam hal dalam ini kegiatan ekonomi harus selaras dengan penataan tata ruang suatu daerah/kota, sehingga tidak terjadi bencana dan merugikan masyarakat nantinya.
Kesimbangan dan pengamanan sumber daya alam, dalam ini memperhatikan kualitas lingkungan sekitar dalam melakukan kegiatan ekonomi, sehingga kualitas lingkungan kondisinya tidak menurun.
VIII. Penutup
Pembelajaran inovatif diterapkan sebagai hasil refleksi siswa atau guru untuk melakukan pembelajaran berbasis pada konteks, kebebasan, dan menyenangkan. Melalui Model Pembelajaran Inovatif ini, Pembelajaran yang selama ini hanya berpusat pada guru (Teacher center)  bisa dirubah menjadi Student Center, dimana dalam Proses belajar mengajar, murid diajak aktif dalam pembelajaran sehingga kompetensi yang dimiliki oleh murid bisa tereksplorasi dengan baik.
Pengembangan pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah pembelajaran inovatif yang memberikan iklim kondusif di kelas dalam pengembangan daya nalar, daya inkuiri dan kreatifitas siswa. Strategi belajar mengajar mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran inovatif memiliki ciri mendorong peserta didik menemukan gagasan baru dan mendorong peserta didik membuat hal-hal yang baru.
Dengan metode Creative Learning diharapkan mampu meningkatkat kompetensi ekonomi kreatif pada siswa. Dengan metode ini siswa akan menjadi kreatif dalam berpikir dan bertindak secara ekonomi, dengan harapan siswa mampu menganalisis sendiri tentang ekonomi kreatif yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.
Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian seputar Ekonomi Kreatif dan menjadikan Ekonomi Kreatif model utama pengembangan ekonomi.
Dengan pemahaman tengantang konsep ekonomi kreatif diharapkan pada siswa akan berdampak pula mengenai ekonomi berwawasan lingkungan, yaitu kegiatan ekonomi (industry, perdagangan, jasa, perbankan, keuangan) yang memiliki keseimbangan yang sehat dan dinamis antara ekonomi dan sumberdaya, sehingga kesinambungan. Demikian juga kesimbangan dan pengamanan sumber daya alam, dalam hal ini memperhatikan kualitas lingkungan sekitar dalam melakukan kegiatan ekonomi, sehingga kualitas lingkungan kondisinya tidak menurun.
IX. Daftar Rujukan
AnneAhira, Metodologi Pembelajaran Creative Learning, http://www.anneahira.com/metodologi-pembelajaran.htm, Webpage diakses pada tanggal 14 Januari 201
Arikunto, Suharsimi, 1992, Pengelolaan Kelas dan Siswa (sebuah Pendekatan Evaluatif), Jakarta : Rajawali Press.
Daryanto & Tasrial.(2012). Konsep pembelajaran kreatif. Yogyakarta: Gava Media.
Depdiknas, 2004, Wawasan dan Pengembangan Profesi guru (PS53), Jakarta, Depdiknas
Ekonomi Kreatif, http://arifh.blogdetik.com/ekonomi-kreatif/, Webpage diakses pada tanggal 16 Januari 2015
Konsep Pembelajaran Kontekstual, http://www.asikbelajar.com/2013/05/pembelajaran-kontekstual.html,  Webpage diakses pada tanggal 16 Januari 2015
Legawa, I Wayan, 2003, Profesi Keguruan, Jakarta, Depdiknas
Lie, Anita, 2004, Cooperative Learning, Jakarta, Grasindo
Pengertian Pembelajaran Kontekstual dan Komponennya, http://www.sekolahdasar.net/2011/06/pengertian- pembelajaran-kontekstual-dan.html, Webpage diakses pada tanggal 14 Januari 2015
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Impelementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. (Cet. II). Jakarta: Kencana.
Rusman.(2011). Model-model pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Siti, Khotijah, Konsep Ekonomi Berwawasan Lingkungan, https://gagasanhukum.wordpress.com/2010/06/17/konsep- ekonomi-berwawasan-lingkungan/, Webpage diakses pada tanggal 16 Januari 2015
Sudirman, PEMBELAJARAN KREATIF (CREATIVE LEARNING), http://makalahpendidikan- sudirman.blogspot.com/2012/07/pembelajaran-kreatif-creative-learning.html, Webpage diakses pada tanggal 14 Januari 2015
Surakhmad, Winarno, 1986, Metotologi Pengajaran Nasional, Bandung : Jemmars.
Trianto. (2007) Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Uno, Hamzah B. (2007) Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.














































































































































































Back to Top